Saat Tuhan Membongkar Grand Design
Di momen qurban ini, hampir banyak bertebaran narasi tentang keluarga Ibrahim. Either “tiap diri kita adalah Ibrahim yang punya Ismail yang harus dikorbankan” or “menyembelih sifat kebinatangan”, or kisah heroisme yang merangkum relasi antar anggota keluarga (suami-istri, ayah-ibu-anak).
Tapi aku ingin coba mendalamkannya lebih lanjut, bahwa serangkaian kisah menjelang qurban itu perlu di-zoom out juga. Dalam arti, kita nggak lihat ini sekedar hubungan pengorbanan ayah-anak aja.
Bayangin, narasi ayah-anak itu aja udah luar biasa kan? Gimana kalau di-zoom out dalam peran Ibrahim yang lebih besar daripada sekedar ayah?
Kisah qurban nggak cuma relasi vertikal Ibrahim-Ismail. Kalau dicermati lebih dalam, rangkaian peristiwa ini justru mengungkap proyek besar yakni Ibrahim sebagai arsitek peradaban. Beliau membawa grand design bernama baladan aminan (negeri yang aman sentosa).
Ini konsep atau konstruk yang megah, cerdas, dan visioner. Bayangin, sekian ribu tahun sebelum masehi, ada orang yang ingin membuat “surga di dunia” ketika yang lainnya masih dalam pemujaan kepada patung, bintang, dan penguasa.
Konsep “baladah” ini (sayangnya) sering direduksi jadi sekadar “negara” dalam pemahaman modern. Yah, simply keterbatasan definisi operasional aja, bahwa sekarang masih mentok di “negara”. Padahal, baladah lebih dari sekadar teritorial. Baladah mencakup tatanan masyarakat berlandaskan “kalimat yang baik” beserta seluruh kelengkapan yang tidak dibatasi oleh teritorial (14 : 24-25)
Oke.. selanjutnya di pikiran seorang Ibrahim, “baladan aminan” itu tatarannya masih konseptual yang abstrak sehingga membutuhkan “operasionalisasi” konkret yang berkelanjutan.
(pembelajaran tentang konstruk, definisi konseptual, dan operasional dari matkulku sangat berguna ternyata)
Tujuan dari baladan aminan sendiri tertera jelas dalam doa Ibrahim (15 : 35-36), “agar anak cucuku tidak menyembah berhala.” Intinya keselamatan peradaban. Tuh kan, apa kubilang, beliau ingin bikin “darussalam” alias surga versi di Bumi yang berkelanjutan. Kalian harus ngerti betapa megahnya misi penyelamatan ini. Oh ya, keselamatan di sini bukan cuma fisik ya, melainkan juga pembebasan dari segala bentuk “kecelakaan” akal, moral, mental, spiritual, apapun itu.
Bayangin, kita udah punya ide/konsep/konstruk, udah jelas juga tujuannya mulia. Sekarang siapa yang mengoperasikannya?
Ibrahim berdoa memohon “anak yang saleh” (Ash-Shaffat: 100). Allah mengabulkannya, tapi nggak instan. Ibrahim harus nunggu sekian tahun sampai Ismail lahir. Begitu memiliki putra, harapannya pun mengkristal: Ismail akan menjadi operator utama yang melanjutkan estafet peradaban.
Tapi ujian tak terduga menghantam. Mimpi penyembelihan meruntuhkan seluruh rencana operasional yang mungkin telah Ibrahim susun. Bayangkan: Anak satu-satunya yang diharap menjadi penerus, justru diperintahkan untuk dikorbankan. Secara langsung seperti “memotong mata rantai keselamatan dan cita-cita” kan? Logika manusia mana yang bisa menerimanya? Ekspektasi Ibrahim “berantakan”. Ia seolah harus memulai lagi dari nol. (Saat itu belum ada Ishaq juga kan?)
So, pelajarannya adalah..
Bahkan tujuan mulia sekalipun jangan sampai membuat kita terjebak dalam “penyembahan rencana”
Seringnya, ketika kita udah yakin merancang masterplan terbaik untuk kebaikan, kita lupa bahwa ruang takdir lebih luas dari skema akal kita. Kita merasa berhak “dimuluskan” jalan hanya karena tujuannya benar. Padahal, bisa jadi kita sedang menjadikan blueprint dalam kepala sendiri sebagai berhala.
Respon Ismail menggenapkan hikmah ini. Sadarkah Ismail bahwa dialah calon penerus estafet? Tentu! Maka normalnya ia protes, “ayah, jika aku disembelih, siapa yang akan mengeksekusi rancangan ayah?” atau, “ayah, bukankah penyembelihanku akan membuat ayah mengulang rencana itu dari nol? Buat apa ibu dan ayah susah-susah mendidikku hanya untuk menyembelihku?”
Tapi ia memilih kata lain: “Laksanakanlah mimpi itu. Mudah-mudahan kau akan temui aku termasuk orang yang sabar” (Ash-Shaffat: 102)
MERINDING COY!
Semuanya nggak masuk akal. Tapi sabar adalah trusting Allah when nothing makes sense. Maka Ismail berharap termasuk ke dalamnya. Apalagi Ismail adalah hasil didikan seorang ibu yang lebih dulu diuji “kemampuan percaya pada hal yang nggak masuk akal”-nya.
Aku pribadi, nggak bisa bayangin posisi Ibrahim. Like.. orang secerdas itu, se-masterplanner itu, harus mengulang rencana dari nol, di saat si “operator” sedang matang-matangnya! Nggak ada miss sedikitpun dari rencananya. Tujuan udah bener, konsep udah ajeg. Tinggal eksekusi ajaaa!! Semua rencana harus hancur justru di waktu yang tepat untuk dieksekusi. Kayak disuruh berhenti berjuang saat lagi semangat-semangatnya 🤯
Tapi Ibrahim berhasil. Ismail berhasil. Maka salam sejahtera untuk keduanya yang telah melewati ujian yang besar.
Bahkan Ibrahim dikasih satu lagi kabar gembira yang nggak beliau duga. Kelahiran Ishaq. Ibrahim tadinya nggak apa-apa kalau cuma Ismail aja, toh Ismail adalah anak yang sabar. Artinya, Ismail punya kemampuan “memulai dari nol” bersama ibunya untuk membangun formula peradaban di lembah Bakkah (sekarang Mekkah) sementara ayahnya hijrah ke mana-mana. Yang kemudian karakteristik tantangan Ismail juga kemungkinan besar nggak mirip dengan bapaknya dan saudaranya (Ishaq).
Tapi kelahiran Ishaq menyempurnakan grand design itu. Allah kasih “anak yang pandai” yang artinya bisa cepat memahami konteks dari peradaban yang udah dibangun Ibrahim sebelumnya. Dia tau harus ngapain dari apa yang udah dikerjakan bapaknya. Ibaratnya: Ismail itu buka lahan baru bersama ibunya (Hajar), dan Ishaq itu melanjutkan garapan Ibrahim bersama ibunya (Sarah).
Doa penutupnya indah sekali.
Sampai di sini penceritaanku, untuk hal lainnya tentang Ibrahim bisa cek ke tulisanku sebelumnya:
— Giza, selalu ada pembelajaran baru setiap tahun tentang keluarga ini
“Padahal, bisa jadi kita sedang menjadikan blueprint dalam kepala sendiri sebagai berhala”