Suhayani Putri's

Teman Cerita

edgarhamas:

Tentang Ujian, Tabiatnya, Hingga Cognitive Reappraisal

@edgarhamas

Wahb bin Munabbih menasihati, “Tiada suatu pun kecuali ia tampak kecil lalu membesar, kecuali musibah. Ia tampak besar di awal, lalu mengecil.”

Kalau kita belum merasakannya, mungkin kutipan ini ngga relate. Tapi, ini relevan bagi siapapun yang hidupnya terbiasa hadapi problema.

Bagi siapapun kita yang pernah merasakan musibah, kita akan tahu bahwa penerimaan kita, membuat kita bisa lebih ringan memikul bebannya.

Inilah salah satu dinamika paling universal dalam pengalaman manusia: musibah dan bagaimana kita menghadapinya dari waktu ke waktu.

Biasanya dalam hidup: sesuatu yang kecil bisa membesar, seperti nasihat Wahb.

Tapi musibah berjalan terbalik: besar di awal, lalu mengecil. Ketika musibah pertama kali datang —perginya orang tercinta, kegagalan besar, kehilangan, penolakan, pengkhianatan— kita akan meledak.

Kita merasa tidak akan sanggup melewati hari esok. Tapi waktu berlalu. Rasa sakitnya menurun.

Kita mulai menata ulang makna hidup. Luka perlahan sembuh. Yang dulu menyesakkan dada, sekarang hanya jadi kenangan, bahkan kadang jadi pelajaran. Kuncinya ada pada: Ridha. Penerimaan.

Seorang teman yang bergelut di bidang psikologi mengatakan, bahwa ini bisa disebut bagian dari ‘cognitive reappraisal.’

Saat kita mulai memaknai ulang peristiwa itu. Misalnya: “Mungkin ini cara Allah mendidikku.” “Allah tunda sesuatu untuk diganti yang lebih baik. insyaallah.”

Bahkan dahulu, Sufyan Ats Tsauri pernah menasihati,

لم يفقه عندنا من لم يعد البلاء نعمة والرخاء مصيبة

“Tidaklah seseorang dianggap faqih pada agamanya, jika ia belum menganggap musibah sebagai nikmat dan kelapangan sebagai musibah.” (Al Jarh wa At Ta'dil 1/93)

“What doesn’t kill you, makes you stronger.” Masalah-musibah yang kita hadapi dengan kuat, sabar dan tawakkal, itulah yang Allah jadikan sebagai penguat kita.

Sama seperti kata Shalahuddin, “ketika aku minta kekuatan, Allah berikan aku masalah untuk aku selesaikan.”

2 Juli 2025

fitriarahmayeni:

gizantara:

Saat Tuhan Membongkar Grand Design

Di momen qurban ini, hampir banyak bertebaran narasi tentang keluarga Ibrahim. Either “tiap diri kita adalah Ibrahim yang punya Ismail yang harus dikorbankan” or “menyembelih sifat kebinatangan”, or kisah heroisme yang merangkum relasi antar anggota keluarga (suami-istri, ayah-ibu-anak).

Tapi aku ingin coba mendalamkannya lebih lanjut, bahwa serangkaian kisah menjelang qurban itu perlu di-zoom out juga. Dalam arti, kita nggak lihat ini sekedar hubungan pengorbanan ayah-anak aja.

Bayangin, narasi ayah-anak itu aja udah luar biasa kan? Gimana kalau di-zoom out dalam peran Ibrahim yang lebih besar daripada sekedar ayah?

Kisah qurban nggak cuma relasi vertikal Ibrahim-Ismail. Kalau dicermati lebih dalam, rangkaian peristiwa ini justru mengungkap proyek besar yakni Ibrahim sebagai arsitek peradaban. Beliau membawa grand design bernama baladan aminan (negeri yang aman sentosa).

Ini konsep atau konstruk yang megah, cerdas, dan visioner. Bayangin, sekian ribu tahun sebelum masehi, ada orang yang ingin membuat “surga di dunia” ketika yang lainnya masih dalam pemujaan kepada patung, bintang, dan penguasa.

Konsep “baladah” ini (sayangnya) sering direduksi jadi sekadar “negara” dalam pemahaman modern. Yah, simply keterbatasan definisi operasional aja, bahwa sekarang masih mentok di “negara”. Padahal, baladah lebih dari sekadar teritorial. Baladah mencakup tatanan masyarakat berlandaskan “kalimat yang baik” beserta seluruh kelengkapan yang tidak dibatasi oleh teritorial (14 : 24-25)

Oke.. selanjutnya di pikiran seorang Ibrahim, “baladan aminan” itu tatarannya masih konseptual yang abstrak sehingga membutuhkan “operasionalisasi” konkret yang berkelanjutan.

(pembelajaran tentang konstruk, definisi konseptual, dan operasional dari matkulku sangat berguna ternyata)

Tujuan dari baladan aminan sendiri tertera jelas dalam doa Ibrahim (15 : 35-36), “agar anak cucuku tidak menyembah berhala.” Intinya keselamatan peradaban. Tuh kan, apa kubilang, beliau ingin bikin “darussalam” alias surga versi di Bumi yang berkelanjutan. Kalian harus ngerti betapa megahnya misi penyelamatan ini. Oh ya, keselamatan di sini bukan cuma fisik ya, melainkan juga pembebasan dari segala bentuk “kecelakaan” akal, moral, mental, spiritual, apapun itu.

Bayangin, kita udah punya ide/konsep/konstruk, udah jelas juga tujuannya mulia. Sekarang siapa yang mengoperasikannya?

Ibrahim berdoa memohon “anak yang saleh” (Ash-Shaffat: 100). Allah mengabulkannya, tapi nggak instan. Ibrahim harus nunggu sekian tahun sampai Ismail lahir. Begitu memiliki putra, harapannya pun mengkristal: Ismail akan menjadi operator utama yang melanjutkan estafet peradaban.

Tapi ujian tak terduga menghantam. Mimpi penyembelihan meruntuhkan seluruh rencana operasional yang mungkin telah Ibrahim susun. Bayangkan: Anak satu-satunya yang diharap menjadi penerus, justru diperintahkan untuk dikorbankan. Secara langsung seperti “memotong mata rantai keselamatan dan cita-cita” kan? Logika manusia mana yang bisa menerimanya? Ekspektasi Ibrahim “berantakan”. Ia seolah harus memulai lagi dari nol. (Saat itu belum ada Ishaq juga kan?)

So, pelajarannya adalah..

Bahkan tujuan mulia sekalipun jangan sampai membuat kita terjebak dalam “penyembahan rencana”

Seringnya, ketika kita udah yakin merancang masterplan terbaik untuk kebaikan, kita lupa bahwa ruang takdir lebih luas dari skema akal kita. Kita merasa berhak “dimuluskan” jalan hanya karena tujuannya benar. Padahal, bisa jadi kita sedang menjadikan blueprint dalam kepala sendiri sebagai berhala.

Respon Ismail menggenapkan hikmah ini. Sadarkah Ismail bahwa dialah calon penerus estafet? Tentu! Maka normalnya ia protes, “ayah, jika aku disembelih, siapa yang akan mengeksekusi rancangan ayah?” atau, “ayah, bukankah penyembelihanku akan membuat ayah mengulang rencana itu dari nol? Buat apa ibu dan ayah susah-susah mendidikku hanya untuk menyembelihku?”

Tapi ia memilih kata lain: “Laksanakanlah mimpi itu. Mudah-mudahan kau akan temui aku termasuk orang yang sabar” (Ash-Shaffat: 102)

MERINDING COY!

Semuanya nggak masuk akal. Tapi sabar adalah trusting Allah when nothing makes sense. Maka Ismail berharap termasuk ke dalamnya. Apalagi Ismail adalah hasil didikan seorang ibu yang lebih dulu diuji “kemampuan percaya pada hal yang nggak masuk akal”-nya.

Aku pribadi, nggak bisa bayangin posisi Ibrahim. Like.. orang secerdas itu, se-masterplanner itu, harus mengulang rencana dari nol, di saat si “operator” sedang matang-matangnya! Nggak ada miss sedikitpun dari rencananya. Tujuan udah bener, konsep udah ajeg. Tinggal eksekusi ajaaa!! Semua rencana harus hancur justru di waktu yang tepat untuk dieksekusi. Kayak disuruh berhenti berjuang saat lagi semangat-semangatnya 🤯

Tapi Ibrahim berhasil. Ismail berhasil. Maka salam sejahtera untuk keduanya yang telah melewati ujian yang besar.

Bahkan Ibrahim dikasih satu lagi kabar gembira yang nggak beliau duga. Kelahiran Ishaq. Ibrahim tadinya nggak apa-apa kalau cuma Ismail aja, toh Ismail adalah anak yang sabar. Artinya, Ismail punya kemampuan “memulai dari nol” bersama ibunya untuk membangun formula peradaban di lembah Bakkah (sekarang Mekkah) sementara ayahnya hijrah ke mana-mana. Yang kemudian karakteristik tantangan Ismail juga kemungkinan besar nggak mirip dengan bapaknya dan saudaranya (Ishaq).

image

Tapi kelahiran Ishaq menyempurnakan grand design itu. Allah kasih “anak yang pandai” yang artinya bisa cepat memahami konteks dari peradaban yang udah dibangun Ibrahim sebelumnya. Dia tau harus ngapain dari apa yang udah dikerjakan bapaknya. Ibaratnya: Ismail itu buka lahan baru bersama ibunya (Hajar), dan Ishaq itu melanjutkan garapan Ibrahim bersama ibunya (Sarah).

image

Doa penutupnya indah sekali.

image
image

Sampai di sini penceritaanku, untuk hal lainnya tentang Ibrahim bisa cek ke tulisanku sebelumnya:

— Giza, selalu ada pembelajaran baru setiap tahun tentang keluarga ini

“Padahal, bisa jadi kita sedang menjadikan blueprint dalam kepala sendiri sebagai berhala”

gizantara:

Aku mulai ngerti, kenapa Rasulullah nggak over-reacting saat orang-orang yang menyebabkan traumanya terus menerus melakukan hal-hal yang men-trigger “alarm” emosi itu. Jawabannya, kata Ust. Nouman Ali Khan, adalah tahajjud.

Ada banyak emosi yang terus menerus diarahkan kepada Rasulullah. Makian, kemarahan, perendahan harga diri, pembunuhan orang tersayang, tuduhan tidak benar, pemboikotan satu kaum, penganiayaan verbal dan fisik, serta perilaku biadab lainnya, nggak mungkin hal-hal kaya gitu nggak meninggalkan bekas trauma.

Aku, kalau jadi Rasulullah, kayanya nggak tahan untuk tetap diam. Kita sama-sama tahu, Rasulullah juga manusia, punya hati dan emosi untuk merasakan. Tapi kenapa, hal-hal traumatis itu nggak jadi penyakit hati? Nggak jadi bikin pengen balas dendam?

Rasulullah rutin me-release semua rasa sedih, rasa nggak terima, rasa pengen membalas, dan kemarahan itu dengan tahajjud. Beliau juga rutin membersihkan dirinya dari penyakit hati dengan istighfar. Beliau mampu menahan diri dari ledakan emosionalnya. “Alarmnya” nggak sesenggol bacok itu sebab ditahan oleh pemahaman yang baik tentang Allah dan manusia, dan hatinya tidak sempit karena ucapan-ucapan manusia.

“Tahajjud itu ibadahnya da'i dan orang-orang shalih.”

Kenapa? Shalih artinya lurus, konsisten. Benar pikirannya, benar ucapannya, benar tindakannya. Ketiganya selaras dan sinkron, dan da'i memang seharusnya begitu. Mereka tidak akan mengucapkan apa yang tidak mereka perbuat.

Dan itu dimulai dengan tahajjud, yakni ibadah yang dilakukan di saat sendiri. Saat kita memang hanya ingin dilihat oleh Allah saja. Kalau udah jujur kepada Allah, artinya akan punya integritas untuk kemudian jujur dalam tindakan-tindakan yang akan dilihat manusia, sehingga meskipun tindakannya dilihat manusia, mereka tidak melakukannya untuk mengesankan manusia.

Maka diam itu benar-benar emas ketika hati ingin menjelaskan berlebihan hanya untuk membersihkan nama baik kita. Ketika kita mungkin ingin mengeluarkan muntahan emosional yang justru kadang malah merugikan martabat kita. Hanya orang-orang yang bertahajjud yang mampu tetap menahan diri dan memelihara kehormatannya saat satu dunia menyalahpahami dan mendzoliminya.

Diamlah, biarkan kekuasaan Allah yang bicara untuk meluruskan pemikiran dan ucapan orang lain yang bengkok. Diamlah, yang terpenting adalah kedudukanmu di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia. Diamlah, manusia tidak menginginkan penjelasan darimu, tetapi Allah senantiasa menginginkan perbaikan darimu. Manusia mencemarkan nama baikmu sedangkan Allah selalu menjaga aib-aibmu.

— Giza, kali ini tolong lanjutkan perjalanan sambil hanya ingin dilihat Allah

julaibib:

Constantly remembering that if Allah brought me to this. He will get me through this

andromedanisa:

Allaah itu baik banget, kala kita pikir rasanya berat sekali menjalani hidup. satu persatu Allaah akan datangkan orang-orang baik dalam hidup kita untuk membantu persoalan yang begitu berat dan rumit.

bener, Allaah itu baik banget, everything happened for a reason, pernah nggak mengamati semua hal yang terjadi dalam hidup selama ini dan rasanya bahagia sekali setiap kali menemukan alasan dibalik semua hal yang terjadi.

kayak, dibalik motor kita yang mogok saat akan berangkat bekerja, kita naik transportasi umum, lalu bertemu dan berkenalan dengan orang baik, menambah relasi, atau mungkin meluaskan rejeki kita.

kayak, sesuatu yang kamu tangisi pada hari ini, barangkali akan kamu syukuri nantinya.

siapapun yang saat ini sedang terluka dengan hebatnya, maka biarkan hatimu sembuh dulu dengan utuh, dengan tenang, dan tidak terburu-buru. jangan pernah lagi mengulangi hal-hal yang kadang kita pikir baik tapi jalannya rumit. sederhanakan saja, melembutkan hati, agar bisa lapang setelahnya..

rahmadany:

Maka, Aku Ridho

Dalam kajiannya, Hubabah ummu zain Al-Junaid mengatakan bahwa “salah satu kebiasaan perempuan-perempuan di tarim ketika mendidik anaknya ialah mengajarkan ;

رَضِتُ بِااللهِ رَبَا وَبِالْاِسْلاَمِ دِيْنَا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيَا وَرَسُوْلاَ

pada kalimat pertama yang harus ia ajarkan untuk diucapkan anaknya”

رَضِتُ بِااللهِ رَبَا وَبِالْاِسْلاَمِ دِيْنَا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيَا وَرَسُوْلاَ

“Aku ridho Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasulku”.

Aku terdiam, kepalaku mendongak menatap wajahnya dengan menelaah segala hal yang beliau ucapkan dengan harapan tidak ada yang tertinggal satu kalimat pun dari beliau.

Tauhid ..

iya, Poin dari semua hal yang beliau sampaikan ialah memperkuat pondasi tauhid .

Karna memang benar, semakin aku mempelajari kehidupan ini, semakin dibenturkannya dengan segala hal yang membentuk keridhoan.

Allah beri penundaan doa, aku belajar ridho atas kehendak-Nya dalam mengabulkan doaku .

Allah beri aku rasa kehilangan, duka, luka dan kecewa, aku belajar ridho bahwa memang sedari awal semua itu hanya sesuatu hal yang dititipkan-Nya kepadaku.

Pun hari itu aku putuskan ..

Yaa Rabbku, alih-alih mengomentari, kini aku sedang berusaha meminta dan menerima. Sekalipun hal2 yg datang diluar pinta. Izinkan aku menilainya sebagai perlindungan dari hal-hal yang menyakitkan.

Karna untuk seluruh yang hilang telah aku ikhlaskan, seluruh yang rumit telah aku relakan . Segala yang telah membebani telah aku lepaskan. Segala yang pergi tak kan ku tahan .

Lalu, takdir mana yang harus aku perdebatkan ? Jika sesungguhnya segala ketentuan hanya milik-Mu .

kphpdraisme:

satu dunia memujamu,

satu rumah sesak atas ucapmu.

image

Lately, ini topik utama yang kerap jadi bahan renungan di meja makan aku dan kakak.

Dalam beberapa kasus, kami menemukan rekan sejawat yang rupanya tak sanggup berbaik kata pada ibunya, sedang seluruh temannya menjadikan ia ‘safe place’ hidup mereka, karena elok tutur katanya.

Atau, entah lelaki mana mendapat limpahan pujiannya, sedang kakak sendiri tak pernah menerima tenang emosinya.

Atau, seluruh mulut sanggup ia dengar kisahnya, namun barang 5 menit tak mampu ia mendengar cerita adik kecilnya.

Menyeramkan ya, kau bahagiakan satu dunia, namun bahkan tanggung jawab terdekatmu, tak selamat dari ucapmu.

Sungguh menyesakkan sekali hidup berdarah, dengan manusia semacam itu.

Ucapnya kala itu.

Lalu resah itu tersuarakan,

Argh, melelahkan… sehingga lah kita harus menyeleksi sedemikian dalam untuk sesiapa ia yang akan membersamai kita nanti.

Dan lihatlah, betapa banyak manusia berwajah banyak hari ini…

Aku tergelak. Menemukan manisnya momen Allah ajarkan kami bahwa,

Memang, memanglah hanya Ia yang pantas menyeleksi, memperhitung, mempersatukan, sebenar-benar hamba-Nya.

Lalu, pertemuan kami itu, berakhir seperti sudah sudah.

Kami yang termenung bersama, menyadari kami pun, tak ubahnya resah kami.

———————

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku”

[HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285]

Memasuki usia menyadari, hadits ini luar biasa sekali.

beningtirta:

Bersyukur itu kunci terbukanya jalan dan hati. Berdoa itu kompasnya. Sholat itu tali kendali layar kapal mengarungi lautan pilihan dan kejadian.